Rasa Gula Tak Lagi Manis, Di Lidahku

Hei Arlan, kamu tahu Stand Up Comedy?

Itu adalah acara komedi TV yang cerdas, setidaknya menurutku.

Dan cukup menghibur, seharusnya.

Tapi kali ini sayangnya bukan Stand Up Comedy yang ingin aku ceritakan.

Tahukah kamu, hei Arlan?

Kali ini, bahkan komedi yang menurutku cerdas itupun tak mampu menghiburku.

Celotehan-celotehan Mario Teguh atau para motivator lain tak mampu memotivasiku.

Bahkan bercengkerama dengan pacar yang tentu saja aku sayang itu tak mampu menyelamatkanku dari tenggelamnya diriku di dasar palung samudera yang dipenuhi hiu-hiu.

Aku yakin kamu tahu, hei Arlan.

Bahwa interaksi sosial tak cukup membantu.

Itu terbukti ketika ada gurauan lucu rerasanya seperti decitan burung gagak yang mencoba memainkan gitar.

Fals.

Ada lagi yang harus kamu tahu, Arlan.

Beberapa waktu lalu aku mencoba untuk menyentuh indahnya alam melalui kabut-kabut nakal yang mencuri cumbu dan udara dingin yang tak terlalu dingin.

Lalu pulang.

Menyenangkan, bukan?

Tapi otakku masih sama kusutnya seperti sebelum aku mencoba bergurau dengan kabut-kabut yang menawan itu.

Kamu masih menyimak ceritaku, Arlan?

Terimakasih.

Kali ini rasa gula tak lagi manis, di lidahku.

Rasa tidur nyenyak, tak kunjung menjangkauku.

Bahkan senandung hujan tak lagi menginspirasiku.

Kamu tahu, aku lelah.

Itu adalah salah satu pernyataan bodoh yang aku utarakan, sementara aku tahu, aku terlalu muda untuk menyebut ‘lelah’ dalam menghadapi polemik di kekacauan otakku yang tak kunjung terbenahi.

Tapi jangan khawatir, Arlan.

Meski kali ini aku terkesan “hidup segan, matipun tak mau”, aku masih saja mencoba menyelam untuk kembali ke permukaan samudera dan menjejakkan kaki di daratan untuk sekedar bisa menikmati kembali Stand Up Comedy.

Bodoh, ya.

Mana mungkin menyelam ke daratan tanpa peralatan, bernapas saja susah. Belum lagi ada hiu-hiu yang kapan saja bisa memangsa.

Iya, memang.

Tapi kamu tahu sendiri kan, hei Arlan?

Sampai saat ini, saat gula tak terasa manis di lidahku pun, aku masih saja belum mati.

Setidaknya aku masih punya kesempatan.

Sebelum sekelumit cerita ini aku akhiri, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, Arlan.

Kemarin aku menemukan quote menarik, yang isinya: “Jika kamu hanya mampu berteriak dengan hati dan pikiran, maka menulislah. Bahkan orang tuli pun bisa mendengarmu.”

Arlan yang baik, sampai disini dulu, ya.

Terimakasih atas waktunya.

Written by: Erna Widiarsi

February 25, 2015

Kaliurang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s