Sendirian Itu Menyenangkan, Kadangkala

Sendirian Itu Menyenangkan, Kadangkala

Inna     : Sendirian itu menyenangkan.

Arlan   : Yakin?

Inna     : Nggggggg…. Adakalanya sendirian itu menyenangkan.

Arlan   : Ya, itu betul. Se-ekstrovert apapun seseorang, kadangkala ia juga membutuhkan waktu untuk sendirian. Meski dalam skala yang lebih kecil dibanding waktu yang dibutuhkan introvert untuk sendirian.

Inna     : Tapi ini bukan tentang seorang ekstrovert ataupun introvert.

Arlan   : Lalu?

Inna     : Tentang “sendirian” itu sendiri.

Arlan   : Ada apa tentang “sendirian”?

Inna     : Sendirian itu menyenangkan, kadangkala.

Arlan   : Ya, aku tahu maksudmu. Karena, tanpa memandang personalitas seseorang entah ia E/I, kita bisa mengenal diri kita sendiri, dan tentunya kita bisa dengan bebas melakukan apapun untuk diri kita sendiri. Tapi kadangkala kita merasa bosan dengan hal itu, kita ingin berinteraksi, berbicara, berdiskusi, ataupun berdebat dengan yang lain. Ya, kan?

Inna     : Ya. Kamu benar.

Arlan   : Lalu apa yang jadi masalahmu?

Inna     : Nggggg… Aku sedang berada dalam “kadangkala” itu.

Arlan   : Berarti kamu tidak sedang berada dalam zona “sendirian itu menyenangkan”, bukan?

Inna     : Iya.

Arlan   : Apa yang membuatmu demikian? Kamu ingin berinteraksi?

Inna     : Iya.

Arlan   : Bicaralah!

Inna     : Ada banyak yang ingin aku ceritakan, tapi entah pada siapa.

Arlan   : Menulislah!

Inna     : Memang. Dengan menulis aku bisa menceritakan apa yang ingin aku ceritakan. Tapi itu hanya sekedar cerita dan tanpa solusi.

Arlan   : Kamu ingin berdiskusi?

Inna     : Bisa dibilang begitu.

Arlan   : Kamu bisa berdiskusi denganku.

Inna     : Kita sudah sering. Karena aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Dan pikiran kita sedang sama. Jika aku bisa berdiskusi denganmu, maka artinya aku sedang berada dalam zona “sendirian itu menyenangkan”.

Arlan   : Karena kita tidak bisa berdiskusi dengan alasan pikiran kita sedang sama, itu artinya kamu sedang dalam zona “kadangkala”. Kalau begitu, carilah teman nyata. Berdiskusilah dengannya.

Inna     : Iya. Rencananya. Tapi aku tidak punya teman nyata untuk diajak bicara.

Arlan   : Maka carilah. Aku, teman “sendirian”-mu itu tidak selamanya menyenangkan.

Written by: Erna Widiarsi

Yogyakarta, 18 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s