PENGHILANGAN PAKSA 18 JULI

This slideshow requires JavaScript.

PENGHILANGAN PAKSA 18 JULI

Oleh: E. Widi

Ini adalah hari ketiga pasca Miya ditinggal oleh keempat anak-anaknya menuju ke ketiadaan. Aku kasihan melihatnya. Payudaranya semakin bengkak dan kencang, sudah tiga hari tidak disusui. Aku khawatir itu akan menjadi sebuah penyakit untuknya. Sementara aku tidak punya cukup uang untuk membawanya ke dokter hewan.

Tiga hari lalu, aku datang ke kos saat matahari berada di atas kepala. Seperti biasa, Miya menyambutku dengan antusias demi mendapat jatah makanan yang lezat. Aku menyapanya dengan elusan di kepala. Sebelum membuka pintu kamar, karena letak “tempat tidur” anak-anak Miya berada tepat di depan kamar kosku, aku melongok sebentar untuk melihat keadaan mereka. Namun kosong. Itu yang ku dapati waktu itu. Belum juga sempat membuka pintu kamarku, aku sudah mencari kesana kemari bocah-bocah Miya. Sementara Miya mengekor di belakangku sambil terus mengeong-ngeong jablay. Ah, mungkin mereka sembunyi, begitu pikirku waktu itu. Lalu aku masuk kamarku yang ku rindukan. Miya masih mengeong di depan pintu dengan nada manja dan muka dimelas-melasin. Oh, shit, memanglah kucing suka begitu. Begitu nasi telah tanak, aku beri Miya makan dengan lauk kesayangannya, ikan keranjang. Ia lahap sekali. Aku kira begitu Miya sedang makan, anak-anaknya akan muncul menyerbu untuk berebut jatah. Tapi ternyata perkiraanku tidak benar. Aku mulai curiga. Jangan-jangan Miya memindahkan anak-anaknya lagi, begitu batinku. Sebab biasanya dan konon katanya, kucing yang baru melahirkan akan selalu berpindah-pindah tempat setidaknya tujuh kali. Waktu itu aku pikir juga begitu. Selagi Miya makan, aku berkeliling lantai dua kosku untuk menemukan bocah-bocah Miya yang baru berumur satu bulan dan masih menyusu itu. Mereka lahir awal puasa kemarin, dalam sebuah kardus dekat dapur. Pencarian kedua tak juga menemukan batang hidung para buah hati Miya. Aku sudah mencari tempat yang biasa mereka pakai sembunyi, sebuah tas di dekat dapur yang berisi plastik-plastik tak terpakai, dan di lantai bawah. Tak ada sinyal yang mengindikasikan keberadaan anak-anak pus. Aku mulai berspekulasi, antara dipindah Miya sendiri atau dipindah (baca: dibuang) oleh “pihak ketiga”.

Di kamar yang kurindukan itu aku nge-game sembari ditemani Miya yang nglesot-nglesot di lantai dan sesekali menggosok-gosokkan badannya di kakiku seraya mendengkur teratur. Jangan anggap aku terkena schizophrenia, sebab kadang aku memang aneh. Ku tanya Miya sambil ku tusuk matanya dengan tatapanku, “Ke mana anakmu?” tentu bunyi “meoong” adalah jawabannya. Dan aku juga tidak tahu terjemahannya. Sebenarnya aku mulai tidak fokus nge-game semenjak aku tak tahu keberadaan bocah-bocah itu. Ku tanya pula sama anak-anak kos yang lain. Ada yang bilang terakhir lihat ketika malam sebelum tidur, ada yang bilang pagi sudah tidak ada. Lalu ada pula yang menyangka bahwa anak-anak kucing itu dipindah olehku. Sebab aku yang paling sering berinteraksi mulai dari memberi makan mereka, memfasilitasi tempat berlindung, tempat makan, dan juga tempat e’ek.

Kupikir Miya sudah menyadari ketidakberadaan anak-anaknya. Begitu ia tidak merengek-rengek lagi di kamarku, kudengar di luar ia mengeong memanggil anak-anak itu. Ia melolong panjang, nadanya galau, dan agak merintih khas suara kucing. Bagi yang suka kucing dan sering memperhatikan gerak-geriknya pasti mengerti. Ku perhatikan Miya tanpa sepengetahuannya, karena waktu itu aku sembunyi dalam kamar mandi, dia mulai mengendus tiap sudut kos-kosan, mulai dari dapur hingga ke gerbang. Tapi aku yakin dia belum putus asa, sebab ia masih mengeong berharap bocah-bocahnya berlari ke arahnya dengan menyeret kaki-kaki mungil yang masih goyah untuk anak kucing baru melek dari kebutaannya itu.

Ratapan ibu kucing berwarna belang-belang hitam putih yang tak diketahui banyak orang itu semakin mengindikasikan bahwa empat bocah Miya memang sengaja dipindahkan oleh “pihak ketiga”. Dalam hal ini aku tidak akan berasumsi siapa-siapa pelakunya. Namun biasanya, “penghilangan paksa” seperti yang pernah menjadi sejarah bangsa Indonesia beberapa tahun silam untuk membungkam suara-suara yang mengkicaukan fakta adalah oleh pihak yang paling berkuasa atas suatu kaum. Dalam skala kos-kosan pun selalu ada pihak-pihak yang berkuasa atas para penghuni berserta seluruh isinya.

Yang aku sayangkan, si “pihak ketiga” yang melakukan “penghilangan paksa” bocah-bocah Miya yang masih perlu asupan ASI dari induknya itu, kenapa tidak sekalian membawa serta induknya. Selain faktor perikehewanan, pun Miya yang dipisahkan dari anak-anaknya itu akan membuat kebisingan di kos-kosan. Dan itu menjadi timbal balik dari sebuah kesalahan si “pihak ketiga”. Rencana untuk menghilangkan secara paksa bocah-bocah yang dirasa mengganggu itu tidak terstruktur dan sistematis. Begitu juga dengan pemerintah Indonesia kala itu, penghilangan paksa yang nyata-nyata terstruktur itu toh kalau tiba pada waktunya akan seperti tanggul yang jebol oleh lumpur panas Lapindo, sebab lumpur itu lebih kuat dorongannya daripada tanggul itu sendiri. Artinya, mereka yang sengaja membungkam suara-suara pembeber fakta sebenarnya hanya mengaktifkan bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Lihat saja, orde selanjutnya, masa sekarang-sekarang ini, banyak yang berkicau mempertanyakan kebenaran dari penghilangan paksa itu. Lalu mereka yang tersangkut paut konspirasi itu cuci tangan dan cuci muka biar setelah kering bisa bertampang polos seperti kucing.

Miya, seperti yang sudah ku khawatirkan, payudaranya semakin kencang dan membengkak. Aku khawatir akan kesehatannya.

Yogyakarta, 20 Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s