Kado Tahun Pertama untuk Devandra: Sebuah Otjehan Retjeh Kepetjintaalaman

Punggungan Merbabu tahun 2016

Mencintai alam itu berat, Nak.

Apakah kau pikir, dengan hanya mencumbui embun di gunung-gunung, berselimut dengan kabut-kabut, bertukar kentut dalam tenda, dan berlomba kuat-kuatan sampai di ketinggian, berfoto di antara mega-mega dengan setelan kegunung-gununganmu itu lantas bisa dibilang kau mencintai alam? Tidak semudah itu, Devandra. Kau baru saja nggumun dan kagum.

Seorang pecinta semestinya merawat, bukan cuma menyeduh nikmat dan mengukur-ukur kontur.

Ibumu gemessh sama yang suka mengaku-ngaku pecinta alam, Devandra. Ikut-ikutan film, ikut-ikutan teman, ikut-ikutan tren biar dikata keren, tetapi mengurus diri dari serangan hipotermia saja segampang beli kacang rebus, gampang, yang penting ada uang. Lain lagi yang berniat ingin meminang sang gadis, hanya mereka yang tidak pernah mencekoki diri dengan etika kepecintalaman saja yang tanpa rasa bersalah menjambret bunga langka dan dilindungi, edelweis. Dan yang paling meresahkan adalah ketika Taman Nasional berubah menjadi sebingar pasar. Lebih miris lagi, sabana hijau tempat kijang-kijang mengikik girang itu dipupuki dengan timbunan sampah yang tak ada bedanya dengan Bantar Gebang.

Rusak jagad!

Apakah kau pikir, mencintai alam hanya berhenti di “buanglah sampah pada tempatnya”? Tidak semudah itu, Devandra. Kau baru saja hanya taat peraturan.

Seorang pecinta semestinya sampai pada perenungan, ke mana sampah-sampah yang dibuang pada tempatnya itu akhirnya bermuara.

Debat capres bulan Februari yang membahas Lingkungan Hidup, kupikir tidak segereget dibanding viralnya ‘yang online-online’ itu. Kalau Ibumu tidak salah ingat, tidak ada kedua capres yang menyentil soal pengelolaan sampah dan dampaknya bagi lingkungan hidup.

Bayangkan, Devandra, sepotong sedotan plastik bekas jus alpukat yang kau minum kemarin sore yang kau buang rapi pada tempatnya itu setahun kemudian berlabuh pada perut seekor ikan yang dijaring nelayan lalu kau beli untuk kau goreng dan sarapan pagi-pagi.

Ibumu khawatir, saat kau dewasa, kau tidak bisa mengicip rasa makanan laut, sebab ikan-ikan itu mati, sebab ikan-ikan itu beracun. Ibumu sedih manakala Paus Sperma di Wakatobi mati dengan isi perut penuh sampah plastik, tahun 2018 lalu. Ibumu mulai paranoid saat ruang imaji disesaki oleh ‘jangan-jangan’ dan ‘jangan-jangan’. Jangan-jangan tongkol dan tuna yang digoreng mbah-mu pun menyantap menu yang sama di belantara samudera sana. Jangan-jangan popok sekali pakai yang kita beli dan kau buat menguning dengan pipismu itu dilalap kalap oleh bangsa perikanan, begitu Ibumu berasumsi. Geliat imaji itu sampai pada sebuah tanya.

Tahukah kau, Nak, mengapa sampah-sampah plastik itu bisa sampai mendekam dalam perut binatang laut? Sebuah tanya semestinya berpasangkan dengan jawab. Kalau tanya hanya bergema, seseorang berarti malas mencari jawab. Ibumu akhirnya tahu, petualangan akhir plastik-plastik di laut rupanya segera tertutupi oleh lapisan tipis mikroba plastisphere. Mikroba berlendir tersebut mengeluarkan senyawa kimiawi dimethyl sulfide yang bau dan rasanya seperti makanan sehingga binatang laut pun tertipu oleh wujud manipulatif ini.

Sesekali, saat kaki telanjangmu bercengkarama dengan kecipak ombak di laut—barangkali kau iseng mencari plastik—cobalah cium plastik yang kau pungut itu, pasti memendarkan aroma ikan. Pernyataan itu digaungkan oleh seorang ahli ekologi Erik Zettler. Kalau kau tidak percaya, cari saja orangnya, kau cuma perlu bikin passport.

Apakah kau pikir, saat kau memutuskan berkelana dan menabung rindu untuk ibumu, lantas kau pantas menyandang pecinta alam? Tidak semudah itu, Devandra. Tapi biar ibumu beritahu, bahwa mencintai alam bahkan bisa sesederhana memberi makan kucing di rumah dan tidak membiarkannya tunawisma. Mencintai alam juga bahkan bisa sesederhana menggunakan popok kain yang walau Ibumu tiap hari harus berkubang dengan aroma bekas ompolmu. Itu saja.

Berkelana tidak akan membawamu ke mana-mana, tidak jika kau bahkan kehilangan makna berkelana itu sendiri. Tapi kado tahun pertamamu yang kelewat dua bulan ini bukan tentang kelana, Devandra, bukan tentang petualangan dan penjelajahan.

Ini tentang ocehan receh mencintai alam yang bisakah kita menjadi pecinta yang kaffah?

Belakangan ini—bahkan saat kau belum diproduksi—sudah bertunas barang satu dua kisah perjalanan bocah-bocah—yang bahkan kapasitas memorinya sudah barang tentu gampang terhapus—ke tempat-tempat our lonely place—you know where I mean. Terdengar menyenangkan, bukan? Terlebih kegiatan itu banyak nilai positifnya.

Nah, dari kegiatan positif yang dilakukan oleh para orangtua muda yang mengajak bocah-bocah lucunya bermain di alam bebas ini—orangtuamu juga muda, lho—sebetulnya sangat beresiko mengingat tanggungan nyawa menjadi berlipat ganda dan tantangan alam di medan ekstrim sangat unpredictable. Ibumu berharap ini tidak mewabah seperti tren yang sudah-sudah. Ibumu yakin, orangtua muda lain berkeinginan menginjakkan kaki anaknya di tanah-tanah di mana ia pernah merambah, hanya menunggu waktu dan kesiapan yang tepat.

Di Norwegia, sebetulnya kegiatan camping atau hiking ke alam bebas bersama balita menjadi hal yang lumrah. Malah bagi bangsa Viking itu, saking dekatnya mereka dengan alam, menganggap bahwa manusia dan alam itu adalah satu kesatuan. Mereka dapat me-recharge energi saat becengkerama dengan alam. Tanah yang indah meski biaya hidup tinggi, tetapi menjadi negeri paling bahagia. Itulah mengapa terkadang Ibumu ingin sekali melarikan diri ke Negeri Midnight Sun itu. Tapi kuyakin, pasti Bapakmu masih tetap bersikukuh tak mau beranjak dari tanah ‘istimiwir’ yang UMR-nya paling rendah dan yang katanya nyaman itu. Tak kusangka, Bapakmu sebegitu mendalami ilmu ‘nrimo ing pandum’.

Ah, sudahlah.

Dari yang Ibumu pernah baca di buku harian seorang aktivis ’60-an yang meninggal di Gunung Semeru pasca tumbangnya Orde Lama yang berjudul Catatan Seorang Demonstran, yang katanya, “Patriotisme tidak dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Akan tetapi dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik.” Memberi penekanan makna bahwa sejatinya kegiatan mentersesatkan diri ke pelosok negeri bahkan jauh lebih ada gunanya untuk memupuk cinta kita terhadap alam dan negeri. Itu benar, Devandra. Ibumu pernah. Dan rasa cinta itu seperti ada getir-getirnya.

Dan dalam lagu kesukaan Gie, Song of the Open Road oleh Walt Whitman, pun Ibumu setuju dengan lirik yang bunyinya begini, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.

Mengajak bertualang bocah sepertimu adalah awal yang baik. Baik pertama untuk pembentukan karakter, supaya kau tak buang-buang waktu hidupmu untuk mencari jati diri. Atau kalau kau bingung dengan pertanyaan ‘siapa aku’, barangkali kau perlu masuk jurusan filsafat kelak. Haha.

Oke, dan baik kedua untuk pembentukan mental, supaya kau tak perlu panik saat mati listrik. Di gunung bahkan kau tidak bisa menyetel tivi, seharusnya. Kita tidak tahu besok. Barangkali kijang dan babi hutan sudah tinggal di apartemen saat kau dewasa nanti. Tidak ada lagi our lonely place to bengong-time.

Lalu baik ketiga adalah untuk melatih fisik. Mental dan fisik itu seperti yin dan yang, Devandra. Saling mengukuhkan untuk membentuk satu lingkaran. Tidak mungkin ada fisik yang sehat tanpa jiwa yang kuat.

Dan baik yang terakhir, untuk pemahaman. Sesungguhnya kita saling bersinergi dengan alam, seperti orang Nordic itu bilang. Karena kita adalah bagian dari alam itu sendiri. Mereka dan kita sebetulnya saling berkomunikasi, mencoba menginformasi, hanya saja, kita—manusia—terlalu banyak bicara.

Bagaimana mungkin seorang yang terlalu banyak bicara bisa mendengar dengan baik?

Alam sudah terluka sangat parah, Devandra, dari lilitan sampah. Dari jiwa-jiwa serakah. Kelompok aktivis lingkungan dan pecinta alam tidak cukup membantu, kalau jiwa-jiwa apatis terus terlahir dan menyesaki bumi. Jangan mengeluh, alam punya cara sendiri untuk menyembuhkan lukanya, secara kolektif.

Bagi alam, baik aktivis maupun apatis adalah sama. Itu sama rasanya seperti simbah buyutmu menyisir rambut berkutunya tanpa mau tahu mana kutu yang makan darah secara ngawur mana kutu yang cuma numpang tidur.

Mencintai alam itu berat, Nak, seberat menahan kantuk pada pagi yang terlalu pagi ini. Kita tidak bisa benar-benar meninggalkan plastik, kecuali kalau kita bersedia menjalani hidup seperti era pra-industri.

Tanah Istimiwir,

2.01 WIB,

11 Maret 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s