Siklus Lebaran adalah Ketika Kita Dipaksa Mengejar Ekor Kita Sendiri

 

kuliner lebaran dengan ketupat opor ayam sambal terasi
traveltodayindonesia.com

Saat tengah membahas tehaer, seorang teman melempariku tanya dalam sebuah chat WhatsApp, “Emangnya Lebaran itu harus gimana, sih? Atau ada standar buat Lebaran?”

Temanku yang satu ini, kalau kita berbalas-balasan chat biasanya memakan berjuta-juta halaman buku untuk membahas yang sebetulnya, apasih. wkwk

Pertanyaan yang asyik, pertanyaan yang sama yang pernah kuajukan pada diri sendiri beberapa tahun yang lalu. Waktu itu aku tengah asyik-asyiknya mempertanyakan kultur dan ideologi. Mengapa harus begini mengapa harus begitu. Bagaimana kalau tidak begini dan bagaimana kalau tidak begitu.

Belakangan pertanyaan filosofis semacam itu sedikit tertelan oleh kesibukan memikirkan bagaimana caranya agar punya me-time seefektif mungkin. Belakangan pertanyaan-pertanyaan ngisruh seperti itu sedikit kuabaikan sebab bahkan melakukan kegiatan sesederhana mengupil saja selalu tidak sempat. Belakangan dua puluh empat jam waktuku adalah untuk pekerjaan seumur hidup; menghidupi dan bertahan hidup.

Seorang emak-emak kurus, bau, dan kusam harus berpikir keras bagaimana caranya punya waktu membuka laptop tanpa diosak-asik bocah tengilnya yang sedang semangat-semangatnya bertanya ini apa itu apa sambil gedebukan manjat meja manjat pagar dan kepleset keset.

Ah.

Jadi begini, sejatinya apa makna lebaran? Momen menyucikan diri dengan kembali ke jalan fitrah setelah tiga puluh hari ngampet emosi, kah? Momen paling spesial kumpul dengan keluarga setelah bertahun-tahun merantau, kah? Atau sekedar momen untuk ngisruh dengan pertanyaan-pertanyaan kapan nikah, kapan wisuda, kapan punya anak, kapan punya adik dan kapan-kapan-kapan, kah?

Atau ini, momen menebar dan atau meraup angpao dan parcel lebaran. Mirisnya lagi, adalah momen untuk saling pamer kekayaan.

Sejatinya lebaran adalah momen kembalinya seseorang ke jalan fitrah dengan cara saling memaafkan—meskipun meminta dan memberi maaf tidak harus menunggu momen lebaran. Karena tujuan mulia tersebutlah, seseorang dengan yang lain setidaknya harus saling berinteraksi—bersilaturahmi mengunjungi satu sama lain.

Seringnya, pada momen silaturahmi inilah tujuan utama untuk saling membersihkan hati justru rusak oleh lambe-lambe kisruh dan mawut. Perlukah bertanya basa-basi yang menuntut dan menyinggung privasi seseorang? Biar kuwakili hai para jomlo yang baik hati dan budiman, bahwa sejatinya menikah adalah pilihan, bukan keharusan. Setuju?

Dan yang paling nyenyengit adalah ini. Momen yang paling menguras tehaer—bagi yang punya tehaer aja sih—adalah ketika sanak saudara sudah mulai bertanya ‘kerja di mana’. Lalu tanpa diminta dia membagi-bagikan pengalamannya kerja di perusahaan ini, dapet gaji segini, tunjangan segini, syalala syilili lalu bisa buat beli badala bidili, hesyeh, anggap saja ada nyanyian burung keseleo.

Lalu kita akan menanggapinya dengan ‘oh’ dan memaksa gigi-gigi kita kering oleh ketawa yang dibuat-buat.

Menyinggung per-tehaer-an ini, ada seseorang yang memang memiliki uang lebih untuk dibagi-bagikan saat lebaran. Tidak salah memang, tidak ada dalil yang melarang. Yang jadi masalah adalah karena kegiatan seperti ini sudah tertradisi, yang mana sepertinya setiap orang merasa terpanggil untuk melestarikan tradisi baik ini, tetapi tidak semua orang memiliki uang yang cukup untuk dibagikan.

Yang kukagumi dari agama Islam, Islam adalah agama yang mudah. Tidak memaksa.

Zakat fitrah yang nyata-nyata wajib dibayarkan oleh setiap umat muslim sebelum Hari Raya Idul Fitri saja menjadi tidak wajib kalau memang seorang tidak mampu untuk membayarnya. Apalagi angpao hari raya, sodaqoh semestinya tidak memaksa seseorang harus melunasinya.

Bukan demi Tuhan. Demi eksistensi diri dan kewangunan, terkadang seseorang memaksakan dirinya untuk melanggengkan tradisi baik itu. Baik memang, tapi sekali lagi, setahuku Islam adalah agama yang tidak merepotkan umatnya.

Demi eksistensi diri dan kewangunan, terkadang seseorang tidak memandang siapa orang yang ia beri ‘salam tempel’ tersebut. Malah bisa jadi ia adalah seorang yang sebetulnya tidak perlu menerimanya. Perlukah kamu merelakan garam di dapur yang tinggal sejumput itu untuk menggarami lautan?

Baik, memangnya lebaran itu harus gimana?

Kita coba berpikir begini. Kalau sejatinya lebaran sesederhana kembali ke jalan fitrah, mengapa harus dirayakan dengan opor ayam, kastengel, dan biang kolesterol-kolesterol lainnya? Bukankah menjamu adalah cara kita untuk menghormati tamu yang datang ke rumah kita untuk meminta maaf dan memberi maaf itu sendiri?

Atau perlukah membatasi durasi bertemu dengan sanak famili agar lambe-lambe kisruh tidak melantur sampai ke pertanyaan ‘keramat’ itu? Dan perlukah meniadakan kegiatan ‘salam tempel’ dan kampanye ‘lebaran tanpa baju baru’ biar isi dompet tidak menjerit?

Memangnya lebaran harus bagaimana?

Tiap tahun kita terpaksa terjebak dalam satu siklus yang begitu-begitu saja. Singularitas budaya yang tidak semudah nyocot doang kalau mau mengubahnya. Kalau kita mencoba menghentikan kegiatan mengejar ekor kita sendiri, kita akan berada di titik chaos. Kita akan terbentur oleh budaya, bukan budaya yang terbentur kita.

Lha kita siapa? Wong kita cuma remah-remah semesta yang barangkali ada atau tidaknya kita juga tidak terdampak sesignifikan hilangnya sebuah black hole di alam semesta.

 

(kusuka Jogja yang sedingin ini)

Erna Widi

 9.19 PM, 3 Juni 2019

2 thoughts on “Siklus Lebaran adalah Ketika Kita Dipaksa Mengejar Ekor Kita Sendiri

  1. Haha…kudemen sama kalimat pamer kesugihan. Tanpa disadari seperti itulah adanya.😅
    Beginilah arus mainstream-nya. Begitu pilihan anti-mainstream diambil, lirikan-lirikan siap menyayat datang dari kanan kiri bahkan segala arah. Rasanya seperti baru melakukan dosa besar.😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s