Wajib Baca! Merantau Itu Tidak Hanya Sekadar Pindah Tidur

idntimes.com

Pertengahan 2009, ketika kedua orangtuaku akhirnya merelakan anak semata wayangnya merimba di tanah asing berpesan—yang sampai sekarang pesan itu masih berbisik lantang—begini, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Bukannya bumi dipijak, langit dihentak.

Raungan mesin bus travel yang menggotong rombongan kami ke Bandara Soetta mengejek kesedihan mereka, menjebol tanggul air mata yang dipalsukan lewat lambaian tangan dan getir senyuman. Seolah monster beroda empat itu adalah UFO penculik anak-anak mereka yang tidak akan dipulangkan kembali untuk membangkangi mereka. Bahwa kebul asap monoksida itu muslihat ninja untuk melarikan pion-pion harapan mereka. Tapi bukankah mereka mendidik anak-anak bukan beternak?

Percayalah, awal kehidupan akan menjadi tidak mudah saat memutuskan jauh dari orangtua. Tapi bagi orangtua, berbesar hati merelakan keputusan anaknya pergi akan sama sulitnya.

Merantau itu tidak sama dengan traveling. Tetapi yang keasyikan merantau kadang membumbuinya dengan traveling. Dua kata kerja yang memiliki makna berbeda tersebut memiliki esensi yang sama; sama-sama pergi dari rumah.

Hei, main ke rumah tetangga juga pergi dari rumah, kan?

Heh, apakah main ke rumah tetangga perlu menggeret koper segunung? Nggak, kan.

Seperti traveling, merantau juga perlu mempersiapkan bermacam bentuk perlengkapan bertahan hidup. Tak jarang, magic com dan setrika dibawa serta. Barangkali ada juga yang repot-repot bawa kenangan mantan. Ups. Kenangan macam apa yang bisa bikin seorang perantau mempertahankan kehidupannya di negeri asing?

Selain perlengkapan penunjang kehidupan, yang wajib dikantongi saat memutuskan pergi merantau adalah mental. Mengapa mental?

Pernahkah saat hendak traveling atau pergi piknik ke suatu tempat, terlebih dahulu mencari review atau spoiler tentang tempat wisata tersebut lengkap beserta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan? Kalau tidak pernah, kebangetan. Gugel sudah temancep di setiap gawai dan masih ada yang tidak memanfaatkannya? Hello, milenials?

Perantau zaman old—zaman tidak ada kecanggihan teknologi—cuma mengandalkan kabar burung, dan selebihnya insting untuk mengenal tempat tujuan. Insting pun tidak akan menajam tanpa ditempa mental yang tangguh.

Apa yang seorang perlu lakukan untuk mempertahankan hidupnya saat ditinggal sendirian di tengah savana luas yang beraroma pipis singa dengan hanya berbekal mangkuk plastik dan garpu buah?

Oke, sepertinya imajinasiku mulai meliar. Aku tidak bermaksud mengasosiasikan merantau dengan kondisi seliar itu.

Atau begini saja, mengapa beruang kutub dan beruang cokelat berbeda? Ah, jangan jauh-jauh ke beruang, mengapa orang Tibet lebih tak risau gigil dingin ketimbang orang Indonesia yang hanya dikipasi sisa-sisa angin musim dingin Australia saja sudah mengeluh takut masuk angin dan menjadikan dingin alasan malas mandi? Sedangkan—konon—nenek moyang kita sepasang spesies yang sama.

Menurut Darwin, individu yang memiliki sifat-sifat kecocokan dengan lingkungan lokal, lebih memiliki potensi untuk menyintas dan bereproduksi ketimbang individu yang setengah mati bertahan dengan ketidakcocokan. Sifat-sifat teradaptasi dari masing-masing individu tersebut selama beberapa generasi akan melahirkan entitas yang betul-betul sanggup hidup di lingkungan lokal tersebut.

Merantau tak jauh beda dengan mempraktikkan teori evolusi. Kunci seorang perantau bisa bertahan hidup di negeri asing adalah adaptasi.

Tak hanya kondisi geografis yang akan menyeleksi perantau, tetapi juga kondisi budaya. Shock culture biasanya mewujud sebagai penguji tak kasat mata, menyerang tanpa bayang, melumpuhkan tanpa sentuhan. Apasih.

Benarkah kita menyalahkan seorang Tibet yang dengan khusyuknya mempersembahkan daging dan tulang teman sendiri yang mati pada burung pencacah bangkai?

Benarkah kita menyalahkan seorang Islandia yang gemar sekali menyantap hakarl—daging hiu busuk?

Benarkah kita menyalahkan seorang penganut jalan Bushido di Jepang merobek perutnya sendiri untuk menjaga kehormatan dirinya?

Tidakkah kita berpikir, apa yang seorang asing pikirkan ketika kita harus membungkuk sambil mengucap ‘nyuwun sewu‘ di hadapan orang-orangtua, pejabat, dan kelas terhormat?

Apa yang kita sangka benar dan salah adalah ketidakmutlakan. Nilai benar dan salah hanya mutlak milik mayoritas dan kebiasaan. Sedang seorang perantau hanya diberi hak pemakluman, bukan mencemooh dengan sekedar pinjam kasur dan pindah tidur.

Tak perlu jauh-jauh ke bangsa Viking, Himalaya, atau Jejepangan. Perlukah seorang mendebat mengapa orang Bintan menyebut es teh manis dengan teh obeng?

Kalau masih terlalu jauh, kita cari yang dekat, perlukah kita mendebat penggunaan imbuhan ‘je’ dan ‘e’ di akhir kalimat logat Jogja? Masih terlalu jauh? Perlukah kita mendebat panitia kawinan tetangga desa yang menjamu tamunya dengan ‘piring terbang’ alih-alih buffet party?

Apa sih masalahnya?

Satu dasawarsa, merantau sedikit banyaknya memupuk sepohon toleransi. Dan tahu diri. Menginjakkan kaki pada bumi yang jajar genjang, sudah seharusnya tidak memaksa sang langit untuk menjadi trapesium.

(Antara 500-1000 mdpl dan desau musim dingin Ostrali)

00.01 AM

11 Juni 2019

One thought on “Wajib Baca! Merantau Itu Tidak Hanya Sekadar Pindah Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s