Sebuah Fiksi Mini: Bidik

fineartamerica.com

Bisik angin utara tak semestinya mengusik konsentrasinya di sela perhitungan cermat Minute of Angle dan gravitasi. Bisik itu dingin gemulai. Akankah kematian menyusup selembut itu? Batinnya. Benaknya terpeleset kemarin pagi di warung pecel lele sebelum petang ini ia membidikkan moncong senapannya pada target yang akan keluar mobil dari jarak 300 meter.

Baru saja lelaki tegap dengan uban gemerlap mengelap cemong mulutnya usai menandaskan lele goreng ketika ekor matanya tak sengaja kepincut headline surat kabar di meja. “Pembunuh Bayaran Pencabut Nyawa Maroba, 100 Juta Untuk Kepalanya” dibarengi samar sketsa wajah yang mirip dengannya menjadi alarm untuk menuntaskan misi selanjutnya, oposisi politik Maroba yang ikut serta menerima cipratan proyek penambangan pasir di kawasan konservasi.

Baca juga: Sebuah Fiksi Mini: 3142 Mdpl

Atap sebuah gedung menjadi posisi istimewa bagi lelaki desertir dan AWSM buatan Inggris kesayangannya. Perayaan HUT kotamadya menguntungkan dirinya, lelaki itu akan merenggut nyawa pada momen kembang api, tepat saat senapan berpeluru Lapua Magnum itu mengunci busung dada sang mangsa.

Detak jantung menjadi makhluk paling berisik. One shot one kill akan mustahil kalau ia tak senada. Angin utara berbisik mengusik, mengantar aroma samar mesiu. Seketika itu juga, ada logam dingin mengecup tepat di pelipis kirinya. Akankah kematian menyusup selembut itu?

Erna Widi

Yogyakarta, Juli 2018

Catatan: Fiksi Mini ini pernah memenangkan Latihan Menulis yang diadakan oleh tim Tulis.me bulan Juli 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s