Kado Tahun Kedua untuk Devandra: Siapakah Kita di Antara Luasnya Semesta?

exoplanets.nasa.gov
Source Image: exoplanets.nasa.gov

Napasmu mendesis, sadarmu tenggelam dalam mimpi, Sabtu malam tanggal 4 Januari. Esok hari kau berulangtahun, kali kedua. Devandra, bukan kado besar dan mahal yang hendak Ibumu beri untukmu, tak lain hanya sebuah kicauan yang barangkali berguna, kalau tidak kali ini, mungkin bertahun lagi ketika kau sudah lancar membaca dan berpikir sebagaimana manusia.

Memang, bagaimana manusia berpikir? Sejak homo sapiens menguasai peradaban, lambat laun kita lupa bagaimana cara berpikir. Penemuan-penemuan jenius yang memudahkan urusan hidup kita justru menumpulkan insting kita. Pertanyaan-pertanyaan dasar soal siapa kita, untuk apa kita di sini, dan pertanyaan agung lainnya memudar oleh kilau pengetahuan mahal yang terpaksa kita beli sejak kita belum siap berpikir. Sesungguhnya, semakin kita tahu segala hal, semakin kita tidak tahu apapun.

Devandra, bangunlah di mimpimu. Tarik ritsleting tendamu dan padamkan bara api unggunmu. Biar dingin angin gunung memelukmu, angkat dagumu, lepaskan gravitasi, mari kita mencari tahu siapa kita di antara percik cahaya di cakrawala itu.

Ketika tubuhmu tak lagi takhluk pada gravitasi, coba lihat kembali bumi yang sempat kau punggungi itu. Bulatan biru yang semakin kecil seukuran wajahmu, melayang di ruang hampa berputar mati-matian mempertahankan eksistensinya dari tarikan kuat gravitasi sang matahari.

Ternyata bumi tak sendirian. Ada benda langit lain yang juga mempertahankan dirinya sendiri dari magnet bumi; bulan. Saking kuatnya gravitasi bumi, rotasi bulan mengunci, hanya menunjukkan satu wajahnya padamu, bahkan saat kau coba mengakalinya dengan berkelana keliling dunia. Meski berjauhan, sejumlah planet lain bernasib sama seperti bumi mengitari matahari. Tak hanya planet, tapi juga planet kerdil, sabuk asteroid, sabuk kuiper, satelit para planet-planet, dan bahkan komet.

Sebelum kita lebih jauh menjelajah, cahaya adalah modal utama kita mencari tahu semesta. Mengapa cahaya? Kau tahu, Devandra, cahaya matahari sampai ke bumi butuh 8 menit 20 detik lamanya. Satu detik cahaya berjarak kurang lebih 300.000 kilometer. Semakin lama cahaya sampai di retinamu saat ini, semakin jauh pula obyek semesta yang kau pandangi itu. Sekedip cahaya hinggap di kelopak matamu, kau sudah melihat masa lalu. Masa lalu benda langit jutaan mungkin milyaran tahun yang lalu saat bintang yang memancarkan sinarnya itu sedang aktif-aktifnya.

Bayangkan, tetangga bintang terdekat kita, selain matahari tentunya, yaitu Proxima Centauri berjarak 4,24 tahun cahaya. Sejauh dan secanggih ini, manusia belum mampu membuat kendaraan yang menyamai kecepatan cahaya. Bahkan wahana antariksa Voyager 1 buatan NASA yang diluncurkan tahun 1977, saat kau berulang tahun hari ini, baru menempuh jarak 22,2 miliar kilometer dari bumi.

Sisi terluar tata surya kita dibalut awan Oort. Karena Voyager 1 memiliki misi antar bintang, sekaligus juga harus lewat dan keluar dari awan Oort, bayangkan berapa ratus ribu tahun lagi untuk sampai di bintang tetangga? Itupun kalau wahana antariksa itu tidak menabrak benda angkasa lain. Dan dari generasi ke generasi mungkin sampai perubahan iklim ekstrim menghantam kehidupan bumi, wahana itu belum akan sampai di bintang katai merah, tetangga tata surya kita.

Terang redupnya bintang sangat dipengaruhi oleh tipe bintang itu sendiri. Matahari termasuk golongan bintang katai kuning. Matahari sebesar itu dan disebut katai? Iya, massa matahari yang hanya 1.999 x 1030 kg saja tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bintang maharaksasa di alam semesta, Betelgeuse, yang 10 juta kali lebih terang daripada matahari. Kita beruntung tidak hidup di sistem bintang itu, Devandra. Kau tahu apa yang akan terjadi?

Kita terlalu jauh membicarakan bintang maharaksasa, sedangkan kita masih harus menempuh Local Interstellar Cloud, rumah bagi kumpulan kecil bintang-bintang termasuk matahari, Proxima Centauri, Vega, Arcturus, dan Altair. Awan semesta ini tipis, tapi mengisolasi bintang-bintang di dalamnya sejauh 30 tahun cahaya di lengan spiral Orion.

BACA JUGA: Kado Tahun Pertama untuk Devandra: Sebuah Otjehan Retjeh Kepetjintaalaman

Kita masih belum berhenti sampai di sini, Devandra. Di galaksi kita ini, yang kita sebut Bimasakti atau Milkyway, rumah bintang-bintang kita, Local Interstellar Cloud hanya serbuk kecil ketombe di salah satu lengan spiral terluar galaksi kita, lengan Orion. Dan para bintang-bintang sedang mengorbit ke pusat galaksi, Sagitarius A.

Apakah kita sedang mengorbit blackhole? Kemungkinan besar, iya. Tapi mengidentifikasi pusat galaksi kita sendiri tidak semudah mengamati Messier 87 yang bulan April tahun lalu supermassive blackhole di pusatnya sempat tertangkap kamera Event Horison Telescope dan diberi nama Powehi. Sebuah frasa Hawaii yang artinya ‘sumber gelap yang tak berkesudahan’.

Sebagaimana matahari dan Proxima Centauri, Milkyway juga punya tetangga galaksi mayor, Andromeda namanya. Saking jauhnya, kemungkinan tabrakan dua galaksi ini akan terjadi saat kita sudah lama tiada, milyaran tahun cahaya lagi. Tetangga galaksi kita bukan cuma Andromeda, Devandra, tapi juga galaksi minor dan galaksi satelit yang mengorbit galaksi yang lebih besar darinya. Sekumpulan puluhan galaksi yang dekat dengan kita ini diberi nama Local Group.

Memangnya ada lagi kumpulan galaksi-galaksi lain di luar galaksi kita? Kau harus menarik napas dalam-dalam sebelum Ibumu menjawab ‘ada’. Rumah kita yang bernama Local Group ini hanya setitik debu di dalam ruang angkasa yang lebih luas lagi bernama Supercluster Virgo. Gugusan galaksi berisi lebih dari 2.000 galaksi termasuk Messier 87 kita ini juga berdekatan dengan Ursa Major Groups dan Canes Groups.

Kau sudah lelah, Devandra? Tapi kita masih harus menjelajah lebih jauh lagi, sangat jauh dari rumah kita tercinta, menjauh dari bintang-bintang, galaksi, gugus galaksi, hingga super gugus galaksi. Kita menempuh jutaan galaksi yang terkumpul dalam satu lengan super gugus galaksi bernama Laniakea Supercluster. Nama Hawaii yang berarti ‘langit yang luas’ ini memiliki jarak 520 juta tahun cahaya dari ujung ke ujung.

Cahaya, jika tak ada hambatan akan dengan mudah sampai di mata kita, tetapi penglihatan kitalah yang terbatas. Kemampuan tercanggih saat ini, astronom hanya mampu mengamati benda langit terjauh dari bumi pada jarak 13,8 miliar tahun cahaya. Bukan berarti semesta seluas itu, tapi pengetahuan dan kemampuan kita tentang alam semesta hanya terbatas pada diameter 27,6 miliar tahun cahaya.

Sudah sejauh ini, dan bisakah kau menemukan jawab ‘siapakah kita’, Devandra? Bukankah semesta terlalu luas hanya untuk dihuni manusia-manusia pongah yang bahkan tak terdengar decit langkahnya di semesta seluas ini? Kita bahkan hanya penghuni planet biru pucat yang mengelilingi bintang katai kuning yang melayang bersama milyaran benda langit lainnya.

Siapakah kita, Devandra? Kalau hanya bangun tidur untuk mengekor siklus membosankan; lahir, sekolah, kawin, tua, mati. Bukankah alam semesta masih penuh misteri untuk kita hidup tak acuh dan tak peduli. Siapakah kita, Devandra? Kalau hidup kita yang singkat ini tak mampu memegang amanah untuk memelihara rumah kita sendiri; bumi.

Planet menyerupai bumi yang layak huni—kalau ada—bahkan jaraknya tak memungkinkan kita tempuh untuk bermigrasi, apalagi membangun koloni. Apa susahnya merawat rumah kita sendiri? Sesungguhnya bumi tidak perlu diselamatkan. Kitalah yang semestinya menyelamatkan diri dari ulah kita sendiri.

Selamat ulang tahun kedua, Devandra.

Dari seorang emak-emak kurus dan kusam.

Yogyakarta dilanda hujan segan redapun tak mau,

5 Januari 2020

2 Comments

  1. Imajinasiku seolah diri ini dibawa terbang melihat begitu luasnya alam semesta raya. Good mom and good son. Happy birthday, Devan. Dari seseorang yang belum sanggup kau eja panggilannya. Bahkan bersalaman pun enggan.😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s